Catatan Ceramah: Quranic Essence of Parenting by Nouman Ali Khan

Quranic Essence of Parenting

Khutbah ini ditujukan kepada orang tua dan juga sebagai anak.

Allah menjelaskan banyak mengenai relasi orang tua dan anak dalam Quran. Alih alih banyak menjelaskan teori, Allah banyak menggunakan contoh contoh, studi kasus.

Contoh kasus Ibrahim AS, yang ayahnya membuat dan menyembah berhala dan juga merupakan tokoh di masyakarakatnya. Anak orang ini ternyata tumbuh menjadi Bapaknya konsep tauhid, bahkan Islam disebut sebagai agama ayahmu Ibrahim.

Bayangkan, di satu sisi ada seorang Ayah yang ‘ngaco’, ternyata anaknya luar biasa. Dan kondisi lingkungannya juga bukan kondisi yang baik dan kondusif. Orang orang di sekitarnya menyembah berhala. Tidak ada yang berpikir sepertinya. Maka Ibrahim saat itu dianggap sebagai pemberontak.

Hal ini menunjukkan bahwa menjadi baik tidaknya seorang manusia, tidak selalu tergantung kepada lingkungannya. Bisa saja ada ungkapan “Gimana lagi.. lingkungannya begini”  “Gimana lagi… anaknya sekolah di sekolah umum di Amerika, tentu mereka akan terpengaruh”. Ya, memang hal tersebut tidak bisa sepenuhinya dipungkiri juga, namun Allah memiliki maksud memberikan contoh contoh seperti kisah Ibrahim. Allah hendak memberi pesan bahwa setiap manusia, terlepas dari bagaimanapun kondisi lingkungannya, memiliki kemampuan untuk berpikir tentang dirinya. Maka jika seseorang memilih untuk mengikuti lingkungannya dan tidak berpikir, maka itu merupakan tanggungjawab mereka sendiri.

“Aku bisa apa lagi, aku kan tinggal di lingkungan yang membuatku tidak bisa melihat kebenaran”

Tidak demikian, Allah memberimu ‘mata’. Allah memberimu kemampuan untuk melihat sendiri.

Nah, hal yang sebaliknya dari kisah Nabi Ibrahim juga terjadi. Dan ini dicontohkan dalam kisah Nabi Ya’qub.

Ya’qub adalah seorang Nabi. Seorang Nabi kita percayai memiliki sifat yang baik, adil, ihsan, terhadap semua orang, apalagi keluarganya sendiri. Beliau memiliki ‘sekelompok’ anak baik dan ‘sekelompok’ anak yang jahat. Padahal kalau dipikir, geng anak anak yang jahat tinggal dengan Nabi Ya’qub dalam waktu yang lama dan merasakan mendapatkan pendidikan dalam waktu yang lama. Adapun Nabi Yusuf (anak yang baik), terpisah dari ayahnya di umur yang sangat muda, dan kemudian masuk ke dalam lingkungan yang lebih buruk lagi, tumbuh dewasa dengan tanpa mendapatkan pendidikan ayahnya, berada di dalam rumah seorang politisi tanpa pengawasan orangtua, bahkan mendapatkan kesempatan untuk berbuat dosa. Bahkan setelah itu Yusuf pun masuk ke dalam yang lingkungan yang lebih buruk lagi, yaitu penjara.

Bisa dibayangkan, sebenarnya sangat mungkin orang yang hidup dalam lingkungan yang sangat buruk, toksik, akan mendapatkan pengaruh kuat dari lingkungannya tersebut dan menjadi orang yang buruk.

Bandingkan dengan saudara saudaranya yang lain yang mendapatkan kesempatan terbaik untuk mendapatkan pendidikan dari orangtuanya. Bayangkan saja, ayah mereka adalah seorang Nabi. Tidak ada kesempatan mendapatkan didikan terbaik selain dari seorang Nabi. Pada akhirnya, anak anak ini berbohong, backbiting, mereka melakukan ini selama bertahun tahun.

Di akhir surat Al Kahf kita menemukan contoh lain lagi. Ada seorang pria muda yang bermata pencaharian mencari ikan. Nah, setelah kisah seseorang yang mencari mata pencaharian dengan jujur, muncul 2 kisah lain. Yaitu kisah anak kecil yang dibunuh, karena saat dewasanya dia akan tumbuh menjadi teror bagi kedua orangtuanya yang merupakan orang orang soleh

Pesan dari seluruh kisah ini adalah, dalam kehidupan ini, dalam hal pengasuhan, kita tidak punya kontrol SAMA SEKALI. Kita hanya memiliki TANGGUNGJAWAB. Dan kita harus bisa membedakan antara dua hal ini (Kontrol, dan Tanggung Jawab).

Saya punya tanggungjawab pada orang tua. Saya tidak bisa mengontrol orangtua.

Saya punya tanggungjawab anak hingga usia tertentu. Saat anak anak baligh, mereka bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Maka ketika hari pengadilan, Allah akan bertanya kepada mereka langsung mengenai perbuatannya setelah baligh, bukan ke orang tuanya.

Ketika kita mengasuh anak hingga usia tertentu, cinta kita sebagai orang tua tidak berubah, doa kita tidak berubah, perhatian kita tidak berubah,  harapan kita akan kehidupan baik mereka tidak berubah. Namun, Allah tidak menimpakan tanggungjawab pada kita sebagai orang tua, atas kesalahan yang anak anak kita lakukan. Kita sudah memberikan yang terbaik, memberikan nasehat dan masukan, maka setelah itu kita harus mundur dan mengizinkan anak anak kita mengambil keputusannya sendiri.

Rasulullah SAW pun melakukan ini. Beliau berkata pada Fatimah :” Wahai Fatimah binti Muhammad, bertaqwalah kepada Allah. Aku tidak punya wewenang terhadapmu di hadapan Allah”

Kita mungkin tidak bisa mengubah lingkungan, maka kita juga tidak bisa berharap anak anak menjadi sempurna. Jangan juga kita frustasi kalau suatu saat anak anak membuat keputusan buruk. Mereka bisa membuat keputusan buruk, seperti halnya kita orang tua juga pernah membuat keputusan buruk. Anak anak kita bisa jadi ‘bikin pusing’ kita sebagai orang tuanya. Tapi kita juga pernah ‘bikin pusing’ orang tua kita kok.

Anak adalah amanah dari Allah. Yang jadi fokus adalah bagaimana kita membesarkan anak. Apakah kita melakukan tugas tugas kita. Itu saja. Sisanya, dia menjadi anak baik atau tidak, akan menjadi urusan anak ini dengan Allah.

Ada cerita di mana orang tua sudah merasa memberikan yang terbaik, menjadikan anak menghafal Quran, ngasi les ngaji dll. Bahkan ada orang tua yang rela melepaskan bisnisnya demi pindah ke tempat lain, untuk menempatkan anak dalam komunitas yang kondusif. Anak ini tumbuh menjadi anak yang hormat pada orang tua, penyayang, namun tiba tiba saja secara tak terduga, anak ini tidak shalat lagi, lalu suka menantang orangtuanya, juga pulang malam.

Kejadian ini sangat banyak terjadi. Saya juga mendapati ada anak yang memukul ibunya, mengancam, mengutuk, mencuri dari orangtuanya

Dia berfirman: walladzii qaala liwaalidaiHi uffil lakumaa (“dan orang-orang yang berkata kepada kedua orang tuanya [ibu dan bapaknya], ‘cis bagi kamu berdua.’”)

“Ufillakuma” terjemahannya adalah ‘cis’ atau ‘ahh’,  bisa digambarkan seperti ekspresi “sudah cukup!! Cukup aku dengar kalian”

Selanjutnya, respon dari orang tua bisa jadi adalah keputusasaan. Anak ini, yang sudah dibesarkan dengan penuh perjuangan, tiba tiba berubah. Banyak terjadi orang tua lalu mengutuk balik karena lelah. Orangtua terpancing untuk mengucapkan kata kata yang sangat buruk.

Kisah semacam ini digambarkan dalam Quran dan menjadi kisah yang tipikal dalam perjalanan sejarah manusia: Orangtua yang rajin memberi nasehat, pesan Quran, anak anak yang muak, lalu meminta orangtuanya untuk menghentikannya dan merasa tidak membutuhkannya.

Bagi anak, pahamilah jika kamu melakukan hal seperti ini, kamu mungkin merasa memperjuangkan kebahagiaanmu, kamu merasa kondisimu unik sampai tidak ada yang bisa memahamimu, ketahuilah bahwa sikap jahat terhadap orang tua, bukanlah kejahatan kecil. Menyakiti orang tua, membangkang, kabur dari orang tua, kamu melakukan apapun yang kamu mau, berpikir bahwa kamu menjalani hidupmu sendiri, kamu tidak akan menang, kamu tidak akan bahagia dengan cara menyakiti orangtuamu. You will always be a loser.

Merasa memiliki keraguan itu tidak apa apa. Mempertanyakan agamamu, itu tidak apa apa. Tapi jika itu dilakukan dengan menyakiti orangtua, itu hal yang sangat buruk.

Mungkin keburukan yang dilakukan tidak seekstrim dalam kasus yang digambarkan ini. Allah pun menjelaskan, bahwa ada level levelnya. Kita semua akan bertanggungjawab sesuai dengan ‘level’ yang kita lakukan.

Bagi orang tua, ini realitas yang dihadapi bahkan oleh para Nabi. Dalam ayat, ada indikasi. Saat anak kita beranjak dewasa, 15, 18, 19, 25 tahun, mereka adalah orang dewasa. Ok mungkin mereka ada yang dewasa namun kekanakan, tapi tetap saja, mereka adalah orang dewasa. Jika orang dewasa melakukan kesalahan, apa peran kita? Apa tugas kita? Tugas pengasuhan kita hanya sampai usia baligh. Jika mereka sudah dewasa dan kita masih saja sibuk memberitahu apa yang harus mereka lakukan, memnyuruh mereka ayo shalat ayo shalat, maka  mereka akan semakin menjauh dan merasa terganggu.

“Lho jadi kita musti gimana lagi? Kan kita musti berdakwah”

Nyatanya, cara kita berdakwah membuat keadaan lebih buruk lagi. Ada 2 tipe hubungan orangtua-anak saat anak dewasa. Ada hubungan spiritual guiding, seperti misalnya kita mencoba memberi nasehat. Ada pula hubungan emosional: seorang ibu tetap seorang ibu, yang menyayangi anaknya. Ini adalah 2 hubungan yang berbeda. Ketika seorang anak berpaling dari agamanya, anak ini tidak sedang butuh da’i, dia lebih membutuhkan peran emosional orang tuanya, yang menyayangi anaknya tanpa syarat.

Coba misalnya ada anak bermasalah yang sudah tidak berkunjung ke orang tuanya, lalu tiba tiba datang. Dia tidak butuh didakwahi. Tahan dulu dakwahnya.

Sekarang kita balik ke kisah Nabi Ya’qub. Saat anak anaknya membawa baju Yusuf yang penuh darah, Nabi Ya’qub tahu bahwa anak anaknya sedang berbohong. Tapi dia memahami bahwa pada saat ini tidak ada yang bisa dilakukan. Anak anak ini adalah sebetulnya seperti anak usia dewasa yang sedang memberontak. Maka pada Surat Yusuf: 18, Nabi Ya’qub berkata bahwa bersabar adalah yang paling tepat saat ini.

Ketahuilah, bahawa kesulitan yang kita alami sewaktu anak masih kecil, bangun tengah malam, ganti popok, beranjak ke rumah sakit saat anak demam, menurus sekolah, dll, kesulitan itu jauh lebih mudah dibandingkan ‘menujukkan keindahan bersabar’ dan mungkin saat ini kita perlu mencari sumber lain untuk memberinya masukan. Maka saat anak anak menjadi pemberontak, saat ini coba jadilah orang tua yang memenuhi peran emosional. Jangan mencoba menceramahi dulu karena hal ini bisa menjauhkan mereka lagi.

Pada kasus Luqman yang direkam dalam Al Quran, kalimat “Yaa Anakku, jangan sekutukan Allah” tidak disampaikan begitu saja. Dia melihat waktu, menunggu kondisi yang tepat, sebelum menyampaikannya.

Sering terjadi mereka menjauhi agama bukan karena mereka tidak mempercayainya, tapi karena muak dengan orangtuanya.

Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang lebih bijaksana, menjadikan hati kita dan anak anak kita lebih lembut. Semoga Allah meringankan cobaan yang dialami keluarga, menjadikan anak anak mereka petunjuk,kepekaan terhadap kebaikan dan segera bertaubat.

Sesekali posting nyampah ah..

Sampah satu arah, kalo nyetatus di fb bisa lempar lempar komen soalnya.

Saya termasuk yang senang yoga yang populer di Indonesia telah mengalami penyempitan makna, menjadi hanya exercise. Saya pro yoga as an exercise. Kalo saya dapet manfaat ketenangan batin, well it’s a bonus. I do not seek spiritual benefit in yoga, not my main purpose lah.  Kalau ada yang bilang ‘yoga sempit makna’ ini bukan yoga, i do not care hahaha. You call me not a yogi? Fine. I am not. I’m just doing this standing, forward bending, plank, downward dog, or even cool challenging pose like headstand or arm balance so that I look cool.

MUI udah membuat rekomendasi bahwa yoga dibolehkan sebatas exercise. Di Malaysia malah pake fatwa haram, lalu diberi keterangan kecuali yang hanya exercise.

Nah kalo memang pengen memasyarakatkan yoga, kenapa sih malah mulai nyebar nyebarin yoga yang ada religious root nya? Saya masih agak agak ngerti kalo diajarin begituan di teacher training, untuk memahami sejarah. Tapi not for my personal practice. Fine lah kalau situ mau practice yang seperti itu.  Tapi kalau nyebar nyebarin di ruang yang lebih umum, ahhh bikin saya males. Yang begini ni yang bikin saya speechless kalau ditanya sama temen saya mengenai apa pendapat saya mengenai hukum yoga. Daripada pusing, saya bilang aja udah ngga usah yoga, cari olahraga lain, walaupun saya tetep melakukan olahraga yang ‘yoga-inspired’  karena saya merasa tau batas dan strict dengan itu. Saya juga tetap ngajarin prenatal yoga, karena saya punya batasan yang strict. This is my private standard.

Sayang sekali, yoga yang saya pelajari (latihan nafas dan fisik), banyak sekali manfaatnya untuk terapi kesehatan. Di batas ini saya benar benar merasa yoga pantas untuk disebarkan, sehingga banyak orang bisa merasakan manfaatnya.

Standar Publik vs Standar Privat

Dalam kelembagaan yang melibatkan banyak orang, entah itu negara, provinsi, hingga institusi sekolah, mau tidak mau Anda melakukan penyeragaman, generalisasi, dalam aturan lembaga Anda. Semakin spesifik dan bervariasi Anda harus menangani anggota institusi Anda, maka akan semakin butuh lebih banyak SDM yang ahli, lebih banyak dana yang dikeluarkan.

Mari ambil contoh dunia pendidikan. Saya memahami sih jika Anda memprotes pemerintah yang memberlakukan UN sebagai standar kelulusan, sehingga dampaknya adalah seseorang disebut cerdas atau tidak hanya melihat 1 dimensi saja. Mungkin banyak dari Anda yang tidak mau anak anak Anda menjadi robot robot selanjutnya akibat belajar melalui kurikulum nasional, sehingga Anda memutuskan mengambil jalan lain untuk pendidikan anak Anda. Ada yang memilih homeschooling (dengan aneka macam metoda, ada montessori, waldorf, unschooling, dll), ada yang memilih sekolah inklusi (barangkali anak Anda berkebutuhan khusus), ada yang memasukkan ke sekolah informal yang kurikulumnya disesuaikan dengan visi misi keluarga Anda. Coba amati saja, pada pendidikan pendidikan khusus itu, konsekuensinya adalah biaya yang membengkak, kompetensi pengajar/fasilitator yang harus jauh lebih keren, atau keduanya. Bayangkan jika seluruh kebutuhan Anda difasilitasi oleh pemerintah melalui regulasi nasional. Tentu saja regulasi pendidikan kita harus semakin maju dan memfasilitasi segala perbedaan ini supaya generasi kita dapat mengoptimalkan kecerdasannya masing masing. Menurut saya, dunia pendidikan tidak berhubungan langsung dengan hidup dan mati, jadi segala macam perubahan ke arah yang lebih baik bisa dijalankan paralel dengan ‘business as usual’. Misalnya saja kurikulum 2013. Ternyata tidak semua sekolah SDMnya siap menjalankan kurikulum ini, maka seperti yang kita ketahui, ada kebijakan transisi, yaitu sekolah sekolah diperkenankan kembali ke kurikulum sebelumnya, jika belum siap. Sementara itu, yang sudah siap dipersilakan melanjutkan. Walaupun demikian, Anda harus berhati hati dalam mempromosikan standar pribadi Anda dalam menjalankan pendidikan keluarga. Misalnya saja Anda mau mempromosikan homeschooling, dan output anak anak Anda memang keren keren. Nyatanya tidak semua orang tua lain punya persistensi dan modal seperti Anda dalam hal disiplin sehari hari, semangat belajar terus menerus, dll. Jika asal adopsi, bisa bisa anak anak lain yang mengadopsi homeschooling tanpa kesiapan yang cukup malah kalah jauh ketimbang anak anak sekolah umum.

user-group-lock-512

Dunia kesehatan kurang lebih sama, namun lebih darurat ketimbang dunia pendidikan. Bagi Anda Ibu ibu berpendidikan yang rajin baca web parenting ataupun malah rajin baca sumber penelitian dari institusi penelitian langsung, Ada mungkin bisa ‘customized’ manajemen gizi dalam keluarga Anda. Keputusan keputusan Anda malah mungkin anti mainstream dan berbeda dengan anjuran anjuran pemerintah. Anda bisa jadi menerapkan diet full raw food, atau ayurveda, atau ketofastosis, yang teorinya bisa jadi jauh berbeda dengan panduan Depkes. Mungkin ada pula yang mencak mencak begitu mengetahui ada dokter anak yang memberi saran anak untuk makan makanan instan fortifikasi, apalagi ada yang mengklaim makanan instan lebih terjamin kecukupan gizinya dan lebih higienis. Bagi Anda yang selama ini meluangkan waktu dan tenaga untuk mempromosikan makanan rumahan, mungkin anjuran tersebut terdengar ‘menggemaskan’, atau bahkan menyangka itu pasti ‘pesanan’ industri supaya produknya laku.  Anda juga menyangka bahwa air mineral tertentu dan air PAM adalah upaya perusakan generasi, karena ada penambahan klorin di dalamnya, atau florida, padahal klorin adalah zat ‘sintetis’ atau kimia yang berbahaya, yang biasanya ditemukan di produk pembersih dan pemutih. Anda begitu merasa ditipu dan diakal akalin pemerintah.

Mari berandai andai bermain tukar peran. Anda jadi presiden, atau Menteri Kesehatan, yang punya standar pribadi yang berbeda dengan kebanyakan orang, dan Anda begitu meyakini dan sudah membuktikan keberhasilan standar pribadi Anda. Lalu Anda menghadapi isu angka gizi yang rendah,angka diare yang menimbulkan kematian karena kurangnya pasokan air bersih, kematian Ibu dan Bayi yang tinggi, wabah penyakit dll. Bayangin kalau Anda punya standar pribadi tidak memvaksin anak anak Anda (betapapun saya mengerti ada kebenaran dalam alasan Anda) dan pro homemade natural food lalu Anda menjadikannya regulasi nasional, misalnya dengan cara melarang penjualan luas susu atau makanan bayi fortifikasi, yang saya bayangkan adalah tugas Anda sangat berat pake banget, untuk mendidik masyarakat dalam waktu singkat (karena masalahnya sudah ada di depan mata) melalui kader kader posyandu puskesmas hingga tingkat RT mengenai bagaimana menyiapkan makanan rumahan dengan higienis namun bisa mengatasi angka kurang gizi yang mengancam. Kalau sudah menghadapi kondisi darurat begini, makanan fortifikasi benar benar menjadi penyelamat.

How on earth will you deal with that, in a shortest term as possible?  Akankah Anda mengatasinya dengan standar privat Anda? Hilangkan vaksin, larang penjualan makanan fortifikasi, olah air baku tanpa menggunakan klorin (dan zat kimia lainnya)? Apa Anda yakin Anda bisa melakukannya paralel dengan terciptanya sanitasi yang baik di seluruh penjuru pojok Indonesia, terciptanya budaya bersih hingga lapisan masyarakat terbawah, dan yakin bisa cepat mengedukasi masyarakat bagaimana cara menyiapkan makanan bergizi, higienis, dan memenuhi nutrisi menurut standar Anda? Tanpa semua itu sangat mungkin Anda malah membuat keadaan (publik) jauh memburuk, walaupun di keluarga kecil Anda justru kondisi yang tercipta bagus banget.

Ngacapruk begini sebenernya cuma mau bilang, pemerintah itu memang tidak selalu benar. Butuh masukan terus menerus. Tapi mbok ya pengertian, nggak gampang lho ngurusin orang banyak 😀 apalagi sebanyak rakyat Indonesia. Jangan doong dikit dikit nuduh mereka ngerusak, tukang tipu, dll. Kasihan lah Pak, Bu. Mereka bikin regulasi juga maksudnya baik.

 

Pilih Pahala 1 atau 2?

Pada suatu saat, Ibu saya tanya ke saya tentang agama, padahal siapalah sayaaa, huehehe. Begini pertanyaannya.
“Kalau kita baca ayat Quran, pahalanya 1, tapi kalau baca terbata bata, pahalanya 2. Padahal kalau baca Quran salah, katanya dosa. Jadi musti gimana dong?”

Saya sering mendengar kondisi seperti ini, yaitu adanya pengertian 2 teks justru bikin dilema. Saya jawab sebisa mungkin sesuai pengertian saya, dan singkat. Namun kalau boleh dijabarkan, jawabannya kurang lebihsebagai berikut:

Pahala 2 untuk terbata bata, menggambarkan betapa Allah menilai usaha. Mirip seperti orang miskin bersedekah yang lebih Allah cintai daripada orang kaya yang bersedekah. Allah tidak menilai nominal (hasil), melainkan usaha sesuai kondisi. Lalu, apa bener juga kalau kita merasa nyaman terbata bata, supaya dapat pahala lebih besar. Apa lebih baik kita lebih pengen tetap miskin karena ingin sedekahnya lebih bernilai. Tentu tidak demikian. Maka, di balik janji pahala amal selalu ada batasan dan kondisi untuk menjaga agar tidak kebablasan.

Menurut saya, 2 kaidah ini disatukan justru jadi keren sekali, maasya Allah, seolah Allah ingin menjaga kita untuk tetap dalam mindset pembelajar, pejalan, keep going towards the better place dengan kondisi yang bersemangat, tidak berputus asa. Bagi yang terbata bata dalam proses belajar (tentu kalau terbata bata pasti salah dalam kaidah membaca yang harus bersambung), berbahagialah dan tetap semangat karena kepayahannya dinilai dengan pahala lebih besar. Namun janganlah malas belajar untuk sempurna melafalkan Quran, karena kalau kita salah melafalkan Quran, dosa lho. Adanya dosa ini mengingatkan kita untuk terus belajar untuk menuju kesempurnaan.
Wallahu a’lam

Kotak Kotak

Sangat mungkin….

  • Ketika saya memutuskan memvaksin anak saya dan pergi ke dokter di saat anak ‘cuma’ batuk, di sana ada yang mengelompokkan saya ke dalam aliran ‘medis konvensional’, ‘pro dokter’, ‘nggak holistik’
  • Ketika saya memutuskan menunda pemberian obat obatan karena sedang ingin membangun imunitas tubuh anak, di sana ada yang mengelompokkan saya ke dalam aliran ‘fanatik naturalis’
  • Ketika saya sesekali berkampanye untuk mengurangi penggunaan plastik, di sana ada yang mengelompokkan saya ke aliran environmentalis garis keras, munafik dan sok menghindari teknologi, sementara hp saya bercasing plastik.
  • Ketika saya ikut keramaian untuk mengkampanyekan natural birth, di sana ada yang mengelompokkan saya (lagi lagi) ke golongan fanatik naturalis.
  • Ketika saya lagi jatuh cinta sama metoda montessori dan bercerita tentang kebaikan kebaikannya, di sana ada yang mengelompokkan saya ke dalam aliran humanis, dan humanisme salah karena tidak ajarannya dalam Islam.

 

“Orang orang” punya kecenderungan mengkotak-kotakkan diri dan memberi kotak pada orang lain. Oh saya kan A. Oh kamu kan B. Oh kamu pasti C, dari apa yang nampak, apa yang terucap, sering tanpa memahami apa konteks atau batasan dari penampakan dan ucapannya.

(saya nyebut “orang orang” pake tanda kutip karena jujur aja saya nggak punya data, hehe. Emang subyektif sih ampun dehh kalo ketemu Aa Gym pasti ditanya “orang orang” tuh berapa sih emang? Satu? Dua? *tutup muka* ya maap atuh lah ya ini memang tulisan subyektip kakak, just for you to know ya)

Kalau dikaitkan dengan isu kekinian, Bapak ex Mendikbud dan Mendikbud sekarang juga mengalaminya, yaitu pengkotak kotakan ini, hehe. Isu full day school keburu rame dengan protes dan ketidaksetujuan, padahal saat itu Pak Menteri nya jg belum cerita apa apa tentang konteks usulannya. Yah emang sih Pak Menterinya jg salah, udah tau masyarakat reaktif ehhh lempar isu goreng masak tumis. Maklum deh yaa masih baru. Ditambah dengan masih membekasnya sakit hati akibat Pak Mendikbud kesayangan dicopot. Maka… kita semua cenderung mengkotakkan Pak Muhajir di ‘kubu lainnya’, kubu apapun itu pokoknya bukan kubu Anies Baswedan. Pokoknya kebijakannya pasti nggak Pak Anies banget. Kalau muncul headline tentang Pak Muhajir yang aneh dikit, bisa jadi reaksi kita “tuh kaaan, pendidikan kita bakal mundur,dst”  padahal belum juga dibaca isinya.

Padahal, tidak ada orang yang murni berpemikiran A, B, atau C. Padahal, sejatinya, tidak ada kebenaran yang mutlak. Bahkan  yang saya sering sebut sebagai ‘kebenaran mutlak’ pun relatif, kecuali keberadaan Allah itu sendiri, saya yakini mutlak yang mutlak.

Babi haram. Bangkai haram. Mutlak? Jelas di Quran? Yakin? Ok yakin ya.

Ya. Babi haram mutlak. Bangkai haram mutlak. Tapi kata mutlak ini pun tidak mutlak. Ada syarat dan ketentuan tertentu yang bisa mengubah hukumnya.

Nyatanya, babi bisa menjadi halal, ketika di dunia ini sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan. Makan bangkai manusia pun boleh. (tentu saja kondisi ini unlikely to happen ya)

“Yah, kalau kebenaran disebut relatif, nanti orang bisa mempermainkan kebenaran dong? Bisa cari cari pembenaran untuk kesalahan kesalahannya.. loncat aliran sana sini nggak konsekuen?”

Masalah hati dan integritas rendah dari manusia, mari kita masukkan ke bab lain dulu ya. You can fool people. But you can’t fool your heart and your God.

Kesimpulan kesimpulan yang ada di aneka penelitian, literatur ilmiah yang ada di universitas universitas, itu juga relatif. Bukan, bukan saja hanya karena ada potensi human error. Coba aja deh perhatikan 1 hasil penelitian aja. Ngga usah dibaca semua lah, baca abstraknya aja.  Sebuah dokumen tebal  tersebut ‘hanya’ untuk membuktikan sebuah hipotesis benar atau salah, tapi dibatasi ‘syarat’ yang macam macam, banyak sekali.Kalau kondisinya berubah sedikit saja, maka kesimpulan penelitian yang makan waktu bertahun tahun itu jadi tidak berlaku. Jadi kalau ada quote yang bilang bahwa kalau orang makin pintar dan dalam pengetahuannya, makin tidak ingin menyampaikan apa apa, itu bener bangeett.

Lahh gimana sih? Kita kan hidup perlu dakwah dan menyampaikan kebenaran? Menyesatkan nih.  Pasti muridnya Gobind Vashdev ya?    —>   saya dimasukin ke kotak lagi nih kalau disangka begini ;p

Ya sudah, tidak apa apa berdakwah dengan batas ilmu (dan batas kebijaksanaan) yang kita punya, dan sebatas apa pengetahuan kita tentang sejauh mana Allah memang minta kita untuk berdakwah. Toh yang buka hati orang lain bukan kita, bukan? Buat saya sih yang penting menggunakan kaidah dakwah yang benar, yaitu lembut lisan, tidak merasa paling soleh, dan meyakini yang membuka hati itu bukan kita, tapi Allah. Jadi tidak perlu sedih atau sakit ati kalau ‘gagal dakwah’, kalau sakit ati jadi syirik deh, mengambil peran Allah sebagai yang menentukan, menuhankan diri sendiri.

Begitu juga dalam memandang kehidupan sehari hari. Sebuah kebenaran berlaku dengan syarat dan ketentuan yang terpenuhi. Salah satu guru saya menyebutnya sebagai Ukuran, Kemampuan, Manfaat, dan Mudharat (UKMM).

Saya jadi teringat dengan salah satu ceramah Ust Khalid Basalamah mengenai Asuransi. Intermezzo ya, Ust Khalid ini adalah ustadz dari manhaj Salafi. Maksud saya mau ngasih tau bahwa beliau adalah termasuk orang yang strict menegakkan sunnah sebagaimana generasi Salafus Salih (bukan yang dikit dikit permisif), yang mungkin beberapa dari Anda tidak terlalu ngefans. Beliau adalah salah satu Ustadz yang mengharamkan asuransi, bener bener mendukung anti riba lah (saya di sini bukan mau fokus sama halal haramnya asuransi ya, tp anggap aja haram begitu ya, walaupun Anda tidak setuju, pura pura setuju aja hehe). Dalam suatu forum, ada jamaah yang ‘mau bertaubat’ dan mau menutup polisnya. Namun, penutupan polis ini tidak akan membuat rugi jika  dilakukannya 3 tahun lagi. Kalau dilakukan sekarang, maka uangnya akan banyak hilang, dan menurut jamaah tersebut menimbulkan mudharat. Ustadz Khalid, – yang mengharamkan asuransi itu- mengembalikan keputusan pada si jamaah, dengan kaidah manfaat dan mudharat (sesuai haknya), namun tetap melarang untuk mengambil manfaat dari asuransi tersebut (yang bukan hak). Akhirnya setelah berdiskusi mengenai kondisinya, Pak Ustadz memberi saran untuk menutup polisnya 3 tahun lagi, setelah uang yang dianggap haknya kembali, dengan syarat tidak boleh mengambil keuntungan sepeserpun.  Kalau mau mikir saklek, kenapa musti ditunda nutup polisnya? Kan haram? Kenapa takut uang hilang?

Kelihatan nggak relativitasnya? Kelihatan nggak mengenai Ukuran, Kemampuan, Manfaat Mudharat? Dan relativitas ini IMHO sangat berbeda dengan mencla mencle. Mencla mencle adalah memutuskan didasari hawa nafsu, apa yang enak. Sedangkan pengambilan hukum melalui UKMM didasari oleh kejujuran terhadap hati (hati jernih) dan terhadap Allah (minta petunjuk pada yang Maha mengetahu Kebenaran).

Ada syarat dan ketentuan dari semua kebenaran.  Yang ngga punya uang buat haji ngga perlu memaksakan diri, tidak perlu kuatir kalah pahala lah dari yang mampu. Yang ngga punya uang buat zakat ya ngga usah zakat. Shalat dzuhur pun tidak wajib 4 rakaat kan. Bisa 2 rakaat kalau masuk ketentuan qashar.

Menyusui itu perintah Allah. Dua tahun tuntunannya. Tapi  kewajibannya juga ternyata kondisional. Dengan menimbang UKMM, maka diperbolehkan menyapih.  Menikah itu wajib kan menurut hadis Rasulullah, jika ingin diakui sebagai umatnya? Tapi saya pernah baca juga bahwa hukumnya bisa haram untuk kondisi tertentu. Berdusta itu dosa kan? Iya dosa, tapi bahkan jadi dianjurkan saat memuji masakan istri. Berbohong saat memuji masakan istri tidak lantas membuat seseorang masuk ke ‘tim pendusta’.

Akhir kata, selama syarat dan ketentuan tidak dijabarkan dengan rinci, saya tidak berada pada kotak manapun. Tapi kalau saya yang dikotak kotakin, itu di luar kontrol saya. Mudah mudahan kotak kotak dari orang lain itu bisa jadi sarana evaluasi diri.

 

 

Catatan Ramadan Exclusive Hari ke 10 oleh Nouman Ali Khan

Masih melanjutkan ayat sebelumnya…

Revolusi terjadi dalam sejarah, terjadi di mana mana. Namun perhatikan, dengan adanya revolusi, berapa banyak orang menjadi korban. Selanjutnya, setelah terjadi revolusi tersebut, apakah orang orang tetap makan makanan yang sama, suka terhadap hal yang sama. Ekonomi dan sosial memang bisa jadi berganti, namun budaya masih tetap sama. Banyak hal yang tetap sama. Namanya memang revolusi tapi sebenarnya prosesnya terjadi tidak secepat itu. Revolusi selalu didasari pemikiran tertentu yang muncul sudah cukup lama dan mempenetrasi masyarakat melalui novel, kisah, dan literatur literatur abstrak. Pemikir awalnya, mereka bukan aktivis dalam pergerakannya. Namun ada saatnya seseorang mengadopsi pemikiran mereka lalu menjadi tokoh yang mendobrak. Namun pada masa munculnya Islam melalui dakwah Rasulullah, semua aspek kehidupan berubah. Yang mungkin akan  ditanya adalah: apa yang tidak berubah, karena hampir semua aspek berubah. Coba buat dokumen apapun yang bisa mengubah begitu banyak kehidupan manusia dalam jangka waktu hanya 23 tahun. Perubahan yang terjadi bersifat privat (kebiasaan kebiasaan pribadi) dan publik (perekonomian, pemerintahan, dll). Oke silakan kalau ada yang mengaku bisa membuat surah serupa Quran. Tapi apa dampaknya kepada kemanusiaan? Bisa kah serupa Quran? Jika komputer dan media digital lenyap dari muka bumi ini dan seluruh dokumen hard copy penting lenyap dari muka bumi ini, dokumen mana kah yang bisa diadakan kembali dalam waktu 1 malam? Quran jawabannya. Bisakah peniru surah Quran melakukan hal yang serupa?

Manusia begitu terikat kepada sejarah dan budayanya. Begitu sulit untuk mengubahnya, dan memerlukan waktu yang lama, apalagi kondisi di masa lalu tidak ada media komunikasi secanggih saat ini. Kalaupun ada perubahan, biasanya itu karena pengaruh budaya luar. Masyarakat arab, terikat pada budayanya sejak ribuan tahun. Budayanya bisa jadi sedikit berubah antar generasi. Hanya ada satu hal yang tidak berubah dari bangsa Arab, yaitu bahasa dan kebanggaannya terhadap bahasa tersebut. Salah satu wujud kebanggaan bahasa adalah syair. Lalu Islam turun selama 23 tahun dan mengubah seluruh aspek kehidupan manusia, dari segi ekonomi, politik, sosial, dan cara hidup. Perubahan tersebut terjadi hanya dalam jangka waktu 23 tahun. Seiring dengan makin banyaknya orang orang luar masuk Islam, maka penetrasi budaya luar semakin banyak terjadi, bahasa Arab juga terdegradasi. Tidak ada lagi yang membuat syair. Maka, scholars, tabiin, mereka mendatangi desa desa terpencil yang belum mendapatkan pengaruh luar, untuk mempelajari dan mendokumentasikan bahasa Arab klasik dalam syair syair.

Tantangan untuk membuat yang serupa tetap ada hingga sekarang. Karena tidak akan bisa disamai, yang orang lakukan adalah melakukan kritisi di sana sini, mencari kontradiksi dalam Quran.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka,tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah 34, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. 2:26)

Innallaha laa yastahyii an yadhriba matsalaa maa ba’uudhatan famaa fauqahaa faammaalladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim waammaalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihii katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin

Maa setelah matsala adalah ekspresi untuk memberikan penekanan pada matsala, artinya perumpamaan apapun. Allah tidak ragu memberikan perumpamaan. Allah mengajarkan Quran. Guru akan mengajar muridnya dalam level yang akan dimengerti oleh muridnya. Maka Quran bukanlah buku filosofi yang sulit dimengerti. Allah menjadikan Quran mudah dimengerti, salah satunya dengan menggunakan perumpamaan perumpamaan.

DI terjemahan disebutkan perumpaan ‘semut’, baudhatan. Namun menurut NAK ada kesalahan terjemahan di situ. Semut adalah baqq. Baudhatan adalah sebagian kecil dari semut, atau makhluk terkecil yang bisa terlihat mata. Terjemahan ‘yang lebih rendah dari itu’, maksudnya adalah apapun yang kita mungkin tidak membayangkan itu akan dijadikan perumpamaan.

faammaalladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim

Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka

Bentuk kata aamana, di sini bisa berarti juga sebagai orang orang yang beriman dan orang orang yang ingin beriman. Kata benar adalah terjemahan terbatas dari haqq. Dalam ayat ini kita harus memahami makna luas dari haqq. Selain berarti kebenaran, al haqq juga berarti tujuan (purpose). Haqq bisa juga berarti rightful (benar), appropriateness (layak).

Yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb, adalah sikap dalam menjadi pembelajar Quran. Terkadang kita belum mengerti makna sebuah ayat karena Allah memang belum membukakan cakrawala pemikiran terhadap ayat tersebut. Sering kan ketika kita membaca ayat, kita berhenti karena kurang mengerti. Kita bertanya tanya apa artinya. Ketika itu terjadi, maka sikap yang benar adalah memohon kepada Allah untuk membuka hati kita sehingga kita bisa melihat hikmah dan kebijaksanaan dari sebuat ayat. Tetap rendah hati saat membaca Quran. Tidak hanya belajar seperti murid pada umumnya, namun belajar sebagai hamba/budak, untuk menyenangkan tuannya.

waammaalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa 

tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”

Makna kafir di sini adalah kafir terhadap nikmat Allah, tidak mensyukuri betapa Allah ‘went out of his way’ untuk memberikan contoh.

Pada Surat An Nuur 35,  “dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia

maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa

terjemahannya Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?

Namun maknanya lebih dalam dari itu. Kalau sekedar perumpamaan seharusnya matsal bukan matsalaa.  Kata matsalaa membuat kalimat ini memiliki emosi merendahkan, sinis.

yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihii katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Perumpamaan dalam Quran juga bisa menyesatkan orang, jika manusia datang pada Quran dengan sikap dan niatan (attitude) yang salah. Siapakah orang yang menjadi orang orang yang tidak diberi petunjuk dengan Quran?

wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin

Terjemahan sederhananya:  Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Namun maknanya adalah: Tidak ada satupun manusia yang akan disesatkan, kecuali orang yang fasik.

Fasik yaitu orang orang yang berbuat kerusakan sangat parah di hatinya sehingga keburukannya menyebar. Menurut bahasa yang digunakan fuqaha, fasik memiliki arti orang yang berbuat dosa: orang yang kasar terhadap orangtuanya, orang yang bolong bolong shalatnya, dst. Fasik sendiri memiliki level. Namun kata fasik di sini merujuk pada level fasik tertinggi.

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 2:27)

alladziina yanqudhuuna ‘ahda allaahi min ba’di miitsaaqihi

melanggar = violate = melepas ikatan yang kuat. Manusia terikat kuat dan terhubung pada Allah, melalui Quran.

wayaqtha’uuna maa amara allaahu bihi an yuushala wayufsiduuna fii al-ardhi ulaa-ika humu alkhaasiruuna

Setelah melepaskan ikatannya, lalu memutusnya. Allah menciptakan manusia dengan 2 jenis hubungan, yaitu hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan sesama manusia. Dengan memutus hubungan dengan Allah, sebagai hasinya, manusia akan mulai memutus juga hubungan dengan sesama manusia, dari keluarga, dari teman. Ini adalah manusia yang tidak memberikan hak hak orang lain: orangtuanya, anak anaknya, tetangga dll. Dalam hidup, kita tidak bisa memilih orang orang yang terhubung dengan kita: saudara, orangtua (kecuali pasangan). Kita tidak bisa memutus hubungan dengan ibu atau saudara. Tapi hubungan tersebut bisa rusak. Kita ada di kondisi di mana kita tidak bisa melepas anak anak kita di luar rumah sendiri, atau kondisi di mana kita ingin segera keluar dari rumah orang tua, atau orang tua yang tinggal jauh dan ketika menelepon itu menjadi hal yang sangat mengganggu. Hubungan hubungan ini sudah menjadi rusak sehingga jaman sekarang orang tidak menganggap penting institusi keluarga. Orang orang ini merasa bebas dengan melepaskan diri dari ikatan ikatan dengan Allah, dan keluarga. Mereka merasa dunia telah terbuka bagi mereka.

ulaa-ika humu alkhaasiruuna

Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan? (QS. 2:28)

kayfa takfuruuna biallaahi wakuntum amwaatan fa-ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilayhi turja’uuna

Tidak ada sesuatu yang mati kecuali sebelumnya hidup. Jadi yang terjadi adalah hidup – mati- hidup – mati – hidup.

Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”(Al Mu’min: 11)

Hidup yang pertama adalah penciptaan seluruh manusia di semua zaman dalam waaktu dalam bentuk ruh yang terbuat dari cahaya. Semua manusia ada di sisi Allah dan manusia berbicara langsung pada Allah. Percakapan yang diberitahu kepada kita hanya sedikit, yaitu mengenai kesaksian seluruh manusia bahwa Allah adalah Rabb. Ada sebuah hadis: ‘Allah menciptakan Adam dalam bentukNya’ Allah juga memberikan sifat sifatnya pada ruh manusia. Sifat pengasihnya, sifat penyayangnya. Setelah itu ruh ditiupkan ke rahim, lalu lahir sebagai manusia dan tumbuh besar. Seiring dengan pertumbuhannya, manusia juga dikendalikan (preoccupied) oleh jasadnya, namun demikian jauh di dalam dirinya tetap ada ruh yang bersama Allah. Maka manusia memiliki dorongan pada keindahan, kesempurnaan. Manusia memiliki fitrah untuk berpikir menuju kesempurnaan, ber kesenian. Kecenderungan untuk mencari kesempurnaan sebenarnya berakar dari jiwa yang bersama Yang Sempurna. Maka manusia berusaha mengisi kekosongan dirinya dengan (in a material sense) dengan menginginkan kepemilikan yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, baju yang lebih bagus tapi tidak pernah puas. Karena tidak ada satupun di dunia ini yang sanggup mengisi ruang kesempurnaan Allah dalam diri kita. Maka ketika orang yang beriman bisa mengembalikan diri pada asalnya, kembali bersama Allah, akhirnya kekosongan itu terpenuhi. Maka kondisi tercukupi ini disebut muthmainn. Tenang.

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah

“Hai jiwa yang tenang Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai

Mengapa disebut kembali, karena manusia pernah berada di sisi Allah.

Catatan dari Ramadan Exclusive Hari ke 9 oleh Nouman Ali Khan

Masih membahas ayat 24

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir. (QS. 2:24)

Di Quran, fakta bahwa Allah adalah Rabb disebut pertama, dan sebagai Pencipta, disebut kedua.

Kata Rabb, melingkupi banyak aspek, takes care of, malik, qayyim, the owner.

Supaya bisa memikirkan siapa yang menciptakan kita, maka kita perlu berpikir jauh ke belakang melampaui kemampuan kita berpikir. Memori terjauh yang sanggup manusia jangkau adalah mengenai ibu. Maka secara alamiah, manusia memiliki loyalitas kepada orangtuanya. Secara tidak langsung loyalitas ini bersambung kepada lingkungan sosial, karena orang tua terhubung pada keluarga besar dst. Maka manusia terafiliasi dengan budaya, bahasa, nilai  norma, dll. Semua hal ini berasal dari ibu. Ibu yang menentukan hubungan terhadap aspek aspek tersebut. Jadi, in a worldly sense, ‘pencipta’ kita adalah ibu.

Allah aza wajalla membawa kita untuk melangkah mundur lebih jauh dari kemampuan imajinasi yang bisa kita jangkau, bahwa Dialah yang menciptakan kita. Allah menantang loyalitas Hubungan tuan dan hamba. Hubungan ini tidak bisa ada tanpa loyalitas. Momen di mana seorang budak taat pada tuannya, adalah jika tuannya hadir. Dihubungkan dengan ayat awal, yaitu mengimani yang ghaib, Allah juga ghaib. Allah adalah hal batin yang tidak bisa dijangkau dengan mata fisik. Dengan keadaan seperti ini, kesetiaan sejati akan muncul.

Seiring dengan makin dewasanya seseorang, kesetiaan manusia kemudian berkembang tidak hanya kepada ibunya, namun berkembang ke kakek, buyut, moyang, dan budaya yang turun temurun. Apa yang orangtuaku akan pikir, apa yang lingkunganku akan pikir.

Maka jika kita mau menjadi budak Allah, maka kita wajib memikirkan kembali kesetiaan terhadap hal hal yang sebelumnya kita pegang berdasarkan memori kita, karena sejatinya Allah yang menciptakan kita dan orang orang sebelum kita. Jika kita menyangka bahwa dengan ini kita mengkhianati nenek moyang, maka ketahuilah nenek moyang sama bertanggungjawabnya

Kembali lagi ke topik SURAH

Surah dalam makna dinding pelindung, didirikan untuk melindungi sebuah institusi dengan nilai yang tinggi. Setiap surah sebenarnya melindungi sebuah petunjuk yang tak lekang waktu, advice, council, teaching, risalah, prohibition, commandements. Sebelumnya, Allah juga menurunkan ajaran mengenai halal dan haram, benar dan salah kepada nabi nabi sebelumnya. Namun seiring waktu, ajaran ajaran tersebut dirusak (corrupted). Makin lama, tidak ada yang melindungi ajaran tersebut.

Tapi kali ini, Allah menurunkan wahyunya dalam bentuk ayat ayat, lengkap dengan pelindungnya yaitu surah. Jadi kesempurnaan susunan Al Quran memiliki tujuan. Dengan demikian, ajaran ini walaupun generasi telah berganti, ajarannya tetap murni dan sama seperti yang diajarkan Rasulullah, yang mana hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.

Yang terjadi pada Bani Israil, di setiap generasinya mereka melakukan perubahan pada ajarannya, maka Nabi selanjutnya akan ‘memperbaiki’nya. Begitu terus hingga tingga masa Nabi Isa. Dakwah Nabi Isa ternyata banyak yang merupakan kemarahan terhadap rabi Yahudi, sehingga Nabi Isa saat itu menjadi ‘public enemy’ bagi para rabi.

Ayat yang menantang untuk membuat ayat yang serupa, sebenarnya beberapa kali diceritakan (6 kali). 5 kali terjadi saat Nabi Muhammad berada di Mekkah. Ini ayat tantangan satu satunya yang turun di Madinah, terjadi sebelum masa perang Badr. Orang orang kafir memang mengada ada dan mengatakan kalau Rasulullah yang membuat sendiri Al Quran, tapi sebenarnya mereka hanya tidak mau percaya.

NAK bercerita tentang Basim Saih, seorang peneliti bahasa. Dia mengumpulkan seluruh hadis, sahih, dhaif, hasan, otentik atau tidak, apapun, lalu meneliti gaya bahasanya. Lalu dia melakukan studi untuk membandingkannya dengan gaya bahasa Quran. Studi ini murni studi akademik dalam bidang linguistik, tidak ada hubungannya dengan agama. Hasilnya adalah, Quran menggunakan gaya bahasa mengkombinasikan kata benda dan kata kerja, frase bersifat preposisi, yang tidak pernah digunakan oleh Rasulullah. Bahkan banyak juga yang tidak pernah digunakan oleh orang orang Arab sama sekali. Dalam Al Fatihah sendiri ditemukan 58 ekspresi yang tidak pernah digunakan oleh orang Arab.

Misalnya, Ghairil maghduu bi ‘alaihim. Ada 2 preposisi yaitu ghair dan wa laa.

Adapun gabungan preposisi dalam hadis, contohnya adalah La-wa laa, Laisa-wa laa, Ma-walaa, dst… tapi tidak ada satupun gabungan preposisi ghair-walaa. Jadi, bahasa Quran masuk akal dan bisa dimengerti, namun cara bertuturnya tidak pernah terdengar sebelumnya dan tidak sama dengan hadis.

Contoh lain. Dalam bahasa Arab, Kaana berarti was (lampau), namun kata kaana juga digunakan untuk bentuk present tense. Jika mengamati hadis, Rasulullah selalu menggunakan kata kaana untuk past tense, tidak pernah present tense. Kosakata yang digunakan pun berbeda.

Secara linguistik jelas sulit untuk ditiru. Selain itu Quran berisi kisah kisah yang orang Arab pun tidak pernah dengar sebelumnya. Dunia akademisi Barat mencoba untuk membuktikan bahwa Al Quran buatan. Mereka berargumen bisa saja Nabi Muhammad meminjam kisah dari bible, sejarah Yunani, sejarah Abyssinia, sana, dan sini. Saat ‘sana dan sini’ disebut, kita bisa berpikir, memangnya Nabi Muhammad pernah travelling sebanyak apa, dan bagaimana bisa beliau mencomot literatur yang tidak jelas dari sana dan sini dengan rentang waktu singkat.

Surah Yusuf adalah surat yang diturunkan di Mekkah, dan isinya adalah mengenai Nabi Yusuf, seseorang tokoh besar dalam tradisi Yahudi. Padahal, Rasulullah tidak berhubungan dengan Yahudi sebelum hijrah ke Madinah. Begitu juga pada surat Thaahaa dan Al Qashash bercerita tentang Nabi Musa, tokoh sentral Yahudi juga. Penyampaian cerita mengenai nabi nabi ini mengkoreksi apa yang sampai pada kitab  Yahudi saat itu.

Perlu diketahui, bahwa tantangan ini, tantangan untuk membuat surah serupa Al Quran, merupakan usaha paling akhir sebelum pintu hukuman dibuka.

Allah mengundang umat manusia melalui council, melalui nasehat, melalui kebaikan dalam diri, rasa syukur. Pintu pertama adalah melalui alhamdulillahirabbil alamiin, arrahmaanirrahiim, maalikiyaumiddiin. Allah sering menggambarkan keindahan, limpahan rizki. Pada kaum sebelumnya, Allah menghukum suatu kaum setelah mereka tetap menolak beriman setelah melihat mu’jizat, bukan setelah menerima dakwah. Begitu pula pada Quran. Maka ketika suatu kaum menolak beriman, mereka pantas dihukum.

Tinjauan bahasa ayat 23 dan 24

Ayat 23:

….. fa’tuu bisuuratin min mitslihi ….

buatlah  satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu.

Ayat 24:

 fa-in lam taf’aluu walan taf’aluu faittaquu alnnaara allatii waquuduhaa alnnaasu waalhijaaratu u’iddat lilkaafiriina 

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir

Taf’alu berasal dari kata fiil, yaitu perbuatan

Kata kerja buatlah pada ayat 23 bentuk katanya berbeda dengan ayat 24. Fa’tu adalah bentuk kata amal, yaitu perbuata yang diniatkan, seperti menulis. Sedangkan taf’alu adalah ekspresi untuk menyebutkan perbuatan yang tidak aktif (unconscious). Menurut tinjauan NAK, ayat 24 menggambarkan ‘writing block’, buntunya ide. Bahkan orang orang ini tidak mampu untuk memulai dan punya ide untuk membuat yang serupa.

Quran memiliki dimensi yang sangat luas, dimensi sejarah, gaya bahasa, berbagai substansi. Mungkin bisa saja orang membuat yang serupa gaya bahasanya, namun substansinya kurang cocok. Mungkin ada yang bisa membuat yang substansinya mirip, namun tidak akurat dari sudut pandang sejarahnya, dst.

Orang Arab di Mekkah dan Madinah so overpowered by ayat ini, sehingga mereka tidak berani untuk menjawab tantangannya. Bayangkan, Quraisy, suku yang kuat. Rasulullah tidak menantang mereka dengan senjata atau ancaman. Rasul tidak membawa sesuatu yang berbahaya. Suku Quraisy adalah orang orang yang keras, berani menumpahkan darah, membunuh, melawan keluarganya sendiri, tapi tidak bisa membalas kata kata? Melawan keluarga mereka sendiri bahkan ternyata lebih mudah daripada menjawab tantangan Allah yang hanya butuh kata kata. (catatan dari saya: Orang Quraisy sebenarnya adalah orang orang yang loyal terhadap kaumnya, walaupun mampu berbuat keras. Mereka pada awalnya menggunakan aneka taktik tanpa kekerasan untuk membuat Nabi menghentikan dakwahnya, karena khawatir dengan perpecahan kaumnya. Namun akhirnya karena tidak berhasil, mereka melakukan upaya yang keras, bahkan akhirnya mau melawan saudara saudaranya dengan kekerasan. Mereka memilih ini ketimbang menjawab tantangan membuat yang serupa Quran)

Penggambaran neraka dengan yang berbahan bakar manusia dan batu. Manusia maksudnya seluruh manusia di masa lalu yang menentang Allah. Ada yang mengatakan yang dimaksud dengan batu adalah patung patung yang disembah, ada pula yang mengatakan yang dimaksud dengan batu adalah hati yang mengeras, ada pula yang mengartikan sebagai lava. Hukuman ini dipersiapkan bagi mereka yang menolak keajaiban Allah, setelah mereka melihatnya.

Ok kita sudah bicara tentang munafik, orang orang yang mendustakan Allah, dan hukumannnya. Selanjutnya adalah ayat yang indah.

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:25)

 

Di ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyelamati/memberi kabar gembira pada  orang beriman. Saat kita diberikan kesempatan untuk berdakwah alam waktu sempit, maka yang perlu kita sampaikan adalah harapan, bukan siksa api neraka. Banyak orang orang Islam yang tidak terpapar dengan dakwah Islam yang tepat. Mungkin ada yang tidak pernah shalat, atau shalat hanya setiap Jumat, atau bahkan hanya saat Shalat Ied. Namun bayangkan jika sekalinya mereka hadir di jamaah, mereka diberondong oleh ancaman ancaman. Jangan lakukan itu. Ini adalah saatnya  kita memberikan harapan, harapan bahwa pintu menuju Allah selalu terbuka, bahwa Allah tidak berputus asa terhadap manusia. Kenyataannya, banyak juga muslim yang jauh dari agama, yang terjadi pada mereka adalah mereka percaya bahwa mereka sudah jadi calon penghuni neraka. Dont give up on yourself.  

Ayat ini adalah perintah pertama yang disampaikan langsung kepada Rasulullah. Perintah untuk memberi kabar gembira. Ini menunjukkan bagaimana membawa dakwah.

Berbuat baik (amilushshaalihaat), dari amilu dan shalihat. Amilu, adalah tindakan sadar. Shaalihat, bersifat jamak dan feminin. Maksud kata shaalihat adalah sedikit perbuatan baik. Sedikit perbuatan baik saja sudah pantas diberi kabar gembira. Rasulullah tidak diperintahkan untuk meminta banyak dari umat, melainkan anjuran untuk berbuat baik satu per satu. Misalnya, janganlah kamu marah. Kamu, berbuatlah baik pada orangtua. Kamu, katakanlah laailaaha ilallaah. Rasulullah memberikan saran yang berbeda beda kepada orang yang berbeda. Rasulullah seperti mendiagnosis setiap orang, dan memberikan sebuah saran spesifik yang akan membuat orang tersebut menjadi lebih baik. Beliau tidak membebani umatnya dengan melakukan hal baik yang terlalu banyak.

Pada realitanya, memang banyak orang orang soleh yang berbuat sebanyak mungkin amal baik karena ingin menjadi makin baik. Tapi ada pula orang orang yang nyaris tidak ada  ibadahnya. Ketika mereka bertanya tentang hal baik apa yang bisa dilakukan, Rasulullah tidak merendahkan mereka dan tidak mengkritik tentang betapa sedikit ibadah mereka.

Bagi mereka (orang beriman) berbagai jenis taman, tidak hanya satu, tapi banyak (multiple garden) dan setiap tamannya memiliki pemandangan tersendiri. Setiap buahnya memiliki rasa yang semakin enak dan berbeda di setiap gigitannya, dan sungai yang mengalir di bawahnya. Sesuatu yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya, tidak pernah terbayangkan. Interpretasi penggambaran sungai ini berbeda beda di kalangan ahli tafsir. Ada yang menggambarkan tamannya berada di atas bukit/gunung lalu ada sungai bawah tanah, atau sungai di kaki bukit. Ada yang menggambarkan tanahnya transparan dan air ada di bawah tempat berpijak.

walahum fiihaa azwaajun muthahharatun wahum fiihaa khaaliduun

dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya

NAK memberikan disclaimer bahwa beliau bukan scholar of the quran melainkan student of the quran, dan penafsiran terhadap akhir ayat ini adalah menurut apa yang paling klik di hati beliau. Dalam Quran, kata aswaaj digunakan untuk laki laki maupun perempuan. Jadi asal katanya  zauuj, artinya counterpart (perfectly matched counterpart), kalau ada yang mau menterjemahkan sebagai pasangan, boleh lah. Contoh zaujayn: bulan dan matahari, siang dan malam, tubuh dan jiwa. Pada bahasa Arab klasik, baik suami dan istri disebut zauuj. Ini bahasa yang digunakan di Quran. Namun pada bahasa Arab modern, istri disebut zaujah. Kata aswaj dalam quran tidak selalu berarti pasangan, tapi juga berarti teman teman yang cocok.

Untuk mereka (jamak), ada isteri isteri/suami (jamak). Di sini disebut untuk mereka, bukan untuknya. Maka paling tidak manusia akan bepasangan satu-satu. Jadi ayat ini bukan berarti mengindikasikan bahwa manusia akan mendapat banyak pasangan (catatan dari saya : walaupun tidak mengingkari kemungkinan itu juga)

Arti muthahharatun adalah purified, disucikan, bukan sekedar suci, secara spiritual, juga disesuaikan sesuai selera (fisik, sifat). Manusia akan bersama dengan pasangannya selama lamanya. Dalam konteks dunia, bisa jadi ini hal yang mengkhawatirkan 😀 namun di Surga, yang terjadi adalah seperti pada buah. Setiap pertemuan akan selalu mengesankan, karena pasangan ini akan selalu disucikan.